oleh

Makna Kambacu dalam Etos Kerja Orang Bugis

MAKNA KAMBACU DALAM ETOS KERJA ORANG BUGIS

APA ITU ETOS KERJA?

Etos Kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok, dengan demikian Etos adalah sikap yang tetap dan mendasar yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan di luar dirinya.

Adanya etos kerja pada diri seseorang profesional, akan lahir semangat untuk menjalankan sebuah usaha atau upaya dengan sungguh-sungguh, disertai adanya keyakinan bahwa dengan berusaha secara maksimal, maka hasil yang akan didapat tentunya maksimal pula. Dengan etos kerja dan kompetensi tersebut jaminan keberlangsungan usaha atau upayanya akan terus berjalan mengikuti waktu untuk senantiasa mencapai keberhasilan.

 

Nilai-nilai utama kebudayaan Bugis dalam hubungannya konsep Etos Kerja adalah sebagai berikut:
1. ININNAWA (Niat), Dalam ungkapan Bugis : “Lettu Nawa-nawa Tellettu Watakkale”.Terjemahannya adalah sampai sebelum tiba di tempat tujuan.

2. RESO (Kerja keras), Dalam ungkapan : Resopa natinulu, malomo naletei Pammase Dewata. Terjemahannya adalah hanya dengan kerja keras yang tekun sering menjadi titian Rahmat Ilahi.

3. GETTENG (Keteguhan pendirian). Terjemahannya adalah setia pada keyakinan, tangguh dalam pendirian, erat memegang sesuatu dan tetap taat pada setiap keyakinan yang telah diyakininya.

4.LEMPU (Kejujuran) yang diartikan sabar, ikhlas,benar, baik dan adil. Sebagai lawan dari kata culas, khianat, aniaya dan tipu.

5. APPASITINAJANG (Kepatutan) hal ini diartikan seseorang yang bijaksana apabila ia mampu menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempatnya yang layak.

6. SIRI (Harga diri). Dalam pandangan orang bugis, yang disebut “manusia” ialah yang mempunyai rasa malu. Dalam bahasa Bugis ada ungkapan : “Iyami Riaseng Tau Taroi Siri Alena”.

Terjemahannya adalah yang disebut manusia ialah yang menaruh malu dalam dirinya. Dan “SIRI-EMI NARIASENG TAU”. Terjemahannya adalah hanya malu sehingga kita disebut manusia. Perkataan “siri” juga berarti “ harkat, martabat dan perilaku.

Orang Bugis dikenal suku perantau di manapun di Nusantara ini, bahkan di seantero dunia selalu dijumpai orang Bugis. Dibeberapa daerah banyak saudagar Bugis yang maju dan sukses dalam berusaha. Sudah barang tentu segala keberhasilan yang dicapainya itu berdasarkan hasil kerja kerasnya bermandikan keringat dan air mata.Keberhasilan itupun tentu sebagian besar mereka mengimplementasikan prinsip-prinsip etos kerja tersebut di atas.

APA ITU KAMBACU ?

Kambacu merupakan kosa-kata bahasa Bugis yang berarti biji jagung yang digoreng dan gagal menjadi BERTI(Wenno)atau biji jagung yang digoreng itu tidak menjadi mekar.

Istilah KAMBACU ini kerap digunakan sebagai simbol yang menerangkan sesuatu pekerjaan yang tidak selesai. Istilah KAMBACU ini setara dengan AMPORO yaitu telur yang dieramkan, gagal menetas dan membusuk.

Karena itu, terminologi KAMBACU maupun AMPORO dimaknai apabila kita menghadapi atau melakukan suatu pekerjaan janganlah berhenti di tengah jalan. Seperti “ AJA’ MUAKKAMBACU “ dan “ AJA’ MUAKKAMPORO” hal ini bermakna setiap pekerjaan yang dilakukan harus selesai, jangan berhenti sebelum tuntas. Jadi istilah Kambacu merupakan ungkapan yang sebenarnya memiliki nilai penyemangat dan tantangan dalam etos kerja orang Bugis.

Seperti halnya ungkapan Bugis “ PURA PALLAUNNA TEPPURA CEMMENA “ Terjemahannya adalah “Selesai Pekerjaan Mandinya belum Selesai” Hal ini juga dimaksudkan setiap pekerjaan harus tuntas. Di kalangan bugis Bone sampai sekarang ini masih sering kita dengar ungkapan-ungkapan di atas dalam aktivitas kesehariannya.

Begitu hebatnya Bugis selain memiliki peradaban yang tinggi juga mempunyai aksara serta setumpuk perbendaharaan bahasa seperti Kambacu ini. Tak heran kalau ilmuwan Eropah banyak menulis tentang BUGIS dan hingga saat ini.

Akhirnya, ketika kita kembali menoropong masa lalu menguak tabir jejak-jejak sejarah moyang kita, seyogianya menjadi renungan. Hal ini bukan berarti untuk mengevaluasi apalagi memberikan penilaian, namun semata-mata sebagai “GELITIK LUHUR” bagi kita semua akan pentingnya menumbuhkan kembali jiwa dan semangat YASSI UGIRI dan YASSI BONEI dalam ruh SUMANGE’ TEALLARA’ Teguh dalam Keyakinan Kukuh dalam Kebersamaan. AJA’ MUAKAMBACU tapi petiklah nilai KAMBACU itu sendiri.

(Penulis : Mursalim)

Berikutnya