Sejarah Tugu Merdeka Bone 1957

Tugu Merdeka 1957 terletak di Taman Bunga Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Dibangun pada masa pemerintahan La Mappanyukki Kepala Daerah Bone tahun 1957-1960.

Tugu Merdeka ini dibangun sebagai tanda resmi bergabungnya kerajaan Bone dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sayangnya, Tugu bersejarah ini dirobohkan tahun 1989 pada masa pemerintahan Andi Syamsoel Alam, Kepala Daerah Bone Tahun 1988-1993.

Setelah dirobohkan kemudian diganti dengan Patung Arung Palakka tahun 1991 yang juga masih pemerintahan Andi Syamsoel Alam.

Tugu bercat putih kebanggaan rakyat Bone itu kini telah tiada. Padahal tugu tersebut mempunya nilai sejarah yang sangat tinggi.

La Mappanyukki adalah raja Bone ke-32 (1931-1946) sekaligus Kepala Daerah Bone ke-4 (1957-1960) Beliau sangat memahami arti sejarah dan nilai-nilai kebangsaan.

Semasa pemerintahannya tidak pernah terbesit dalam benaknya untuk merobohkan bangunan peninggalan pendahulunya. Buktinya, kalau bukan karena usaha dan permintaannya kepada Gubernur Belanda, maka Bola Subbie tidak ada lagi di Bone.

Karena Bola Subbie pernah disita oleh Belanda lalu dipindahkan ke Ujung Pandang sebagai bukti penaklukan Bone pada perang Bone tahun 1905.

Tapi atas usaha La Mapanyukki maka bekas istana raja Bone La Wawoi Karaeng Sigeri tersebut masih dapat kita saksikan sampai sekarang ini. Bahkan Bola Subbie ini merupakan peninggalan ratu Bone ke-30 We Fatimah Banri.

Bola Subbie dibangun tahun 1871 oleh ratu Bone ke-30 We Fatimah Banri yang memerintah di kerajaan Bone tahun 1871-1895. Awalnya disebut Bolampare’e, Kemudian Bola Sukki’ atau Bola Subbi’e sampai sekarang.

Itulah kehebatan para pemimpin terdahulu, ia menghargai jasa dan karya pendahulunya, ia mampu memikirkan masa depan generasinya.

Selain mempertaruhkan nyawa di medan perang, ternyata masih memikirkan kelangsungan hidup generasi dan anak-anaknya di kemudian hari.

Akhir tahun 1949 Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno berkunjung di kerajaan Bone untuk bertemu La Mappanyukki. Presiden Soekarno diterima oleh raja Bone La Mappanyukki di Bola Subbie.

Maksud kedatangan sang proklamator itu di Bone untuk mengajak rakyat kerajaan Bone untuk bergabung NKRI. Namun ajakan Soekarno tidak otomatis dipenuhi raja Bone La Mappanyukki, sebab terlebih dahulu ia harus menyampaikan secara musyawarah kepada rakyat Bone.

Tahun 1952 Kerajaan Bone menjadi daerah swatantra berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 tahun 1952 tentang pembubabaran daerah Sulaweisi Selatan dan pembagian wilayahnya.

Kemudian terbit UU No. 1 tahun 1957 tentang Pokok‑pokok Pemerintahan Daerah untuk seluruh wilayah Republik Indonesia sejak tanggal 18 Januari 1957. Di mana tahun ini Bone berakhir status swatantra. Pada peralihan ini kemudian La Mappannyukki diangkat menjadi Kepala Daerah Bone.

Di awal tahun pemerintahan La Mappanyukki sebagai kepala daerah berkumpullah ribuan rakyat Bone di alun-alun (lapangan merdeka sekarang). Mereka demo besar-besaran duduk bersila di alun-alun untuk menyatakan sikap dan mendukung penuh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan La Mappanyukki menyambut haru pernyataan rakyat Bone itu, karena sebelumnya memang sudah menyampaikan hal itu sewaktu bertemu Soekarno di Bola Subbie tajuh tahun lalu.

Selanjutnya dua tahun kemudian yaitu tahun 1959 terbit UU RI Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan daerah tingkat II di Sulawesi Selatan termasuk Bone.

Dengan terbitnya UU No.29 tahun 1959 tersebut, maka Kerajaan Bone resmi dinyatakan bergabung dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 4 Juli 1959.

Sebagai bukti sejarah bergabungnya kerajaan Bone dalam pangkuan NKRI maka La Mappanyukki mendirikan sebuah tugu yang disebut TUGU MERDEKA 1957.

Sementara itu, Alun-alun kerajaan Bone kemudian berganti nama menjadi Lapangan Merdeka sampai sekarang. Di samping itu, karena di situlah juga rakyat Bone melakukan aksi demonstrasi paling beradab sepanjang sejarah Tanah Bone.

Betapa tidak, rakyat Bone dengan representatif 3000 orang duduk bersila di alun-alun merdeka sambil menyampaikan aspirasi dan menyatakan sikap bergabung dan mendukung NKRI kepada La Mappanyukki selaku kepala daerah Bone pada masa itu.

Tugu Jam Kawasan Simpang Tujuh Watampone / Kawasan Tana Bangkalae

Nah, kawasan Simpang Tujuh Watampone sekarang tampak berdiri sebuah tugu jam yang tidak mempunyai nilai sejarah, alangkah bijaknya diganti dengan Tugu Merdeka.

Agar kembali bernilai historis bagi rakyat Bone utamanya kalangan anak-anak kita untuk mengenal sejarah daerahnya.

Terima kasih Semoga Bermanfaat,

(Sumange Tealara-Langkana Masagena)

Selanjutnya