oleh

Sejarah Penamaan Kota Watampone

Watampone adalah nama ibukota kabupaten Bone sekarang ini. Namun sebelumnya, pada awal masa kerajaan Bone hingga menjadi sebuah kabupaten telah tiga kali mengalami pergantian nama ibukota. Bermula dengan nama Kawerang, kemudian Lelebbata, dan nama Watampone hingga saat ini.

Berdasarkan penelusuran jejak kota tua Bone, bagwa pada abad ke-10 Masehi Bone hanya sebuah wilayah kecil. Awalnya hanya seluas 4 km persegi. Letaknya sedikit lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya sehingga disebut Tanete.

Istilah nama Bone sendiri adalah kosakata Bugis kuno, sudah ada sejak Bone Purba dalam wilayah kerajaan Wewangriu zaman Lagaligo. Pada masa itu sebelum berdirinya Bone sebagai kerajaan.

Sebagai kosakata bugis kuno, Bone artinya Pasir. Karena tanahnya berpasir warna kekuning-kuningan sehingga Bone dahulu disebut tanah yang berpasir. Jika demikian dapat dipastikan, bahwa penyebutan nama Bone adalah nama toponim yaitu penamaan suatu wilayah atau daerah berdasarkan keadaan gegrafis, peristiwa, dan aktivitas masyarakatnya pada masa silam.

Ketika kerajaan Bone berdiri pada tahun 1330 Masehi ditandai dengan bergabungnya 7 wanua manjadi persekutuan, yaitu : Wanua Ponceng, Wanua Tanete Riattang, Wanua Tanete Riawang, Wanua Ta, Wanua Macege, Wanua Ujung, dan WanuaTibojong.

Ketujuh wanua ini bersatu dalam panji Worongporonge, yaitu Bendera Bintang Tujuh yang menandakan tujuh negeri di bawah kepemimpinan Raja Bone pertama Manurunge ri Matajang.

Pada masa itu, ada beberapa wanua lain yang tidak bergabung seperti Biru, Cellu, dan Majang. Sementara Bukaka atau Ciung masuk dalam wanua Tanete Riawang.

Kerajaan Bone mulai membangun wilayahnya dengan ibukota kerajaan bernama Kawerang. Daerah Kawerang ini berada dalam wanua Tanete Riattang di tepi sungai Bone.

Sungai Bone tersebut digunakan oleh penduduk Bone sebagai alur transportasi penting untuk menghubungkan wanua lain. Hulu sungai Bone tersebut ada dua, yaitu dekat Anrobiring di Palakka dan Pallengoreng dan bermuara di Teluk Bone.

Kawerang sebagai pusat pemerintahan kerajaan Bone berasal dari nama tumbuhan yang disebut Awerang yang banyak tumbuh disekitar sungai Bone pada masa itu. Sungai Bone tersebut masih dapat disaksikan hingga sekarang. Terletak di jalan Manurunge kota Watampone sekarang ini.

Awerang adalah sejenis ilalang dan biasa tumbuh di tanah lembab dan berair. Tingginya kurang lebih dua meter. Mempunyai bunga jambul putih. Oleh Karena dominan tumbuh di daerah tersebut maka penduduk menyebutnya kampung Kawerang yang berasal dari kata Engka-Awerang. Kemudian berubah sebutan menjadi Kawerang.

Sama halnya dengan kampung-kampung toponim lainnya seperti Kajuara karena Engka-Ajuara atau ada pohon beringin, Awo Lagading karena ada tumbuh bambu, dan sejenisnya.

Di Kawerang inilah Istana Raja Bone Pertama Manurunge ri Matajang berdiri. Istana itu berdiri menghadap sungai Bone. Letaknya sekarang diduga sekitar Jalan raya di belakang kantor Korem 141 Toddopuli sekarang ini.

Dalam lontara dikatakan, bahwa istana itu berdiri dengan cepat sebelum bulisa’ nya mengering. Bulisa’ adalah sisa kulit kayu yang masih basah. Dengan demikian patut diduga, bahwa istana raja Bone pertama terbuat dari kulit kayu. Namun tidak dijelaskan jenis kayunya.

Di istana bulusa inilah tempat Tujuh Matoa bermusyawarah membentuk satu ikatan dalam pemerintahan kerajaan Bone. Olehnya itu, sistem pemerintahan tersebut disebut juga kawerang sesuai tempat musyawarah dilaksanakan.

Dalam pemerintahan sistem Kawerang masing-masing matoa tetap menjadi penguasa di wilayahnya dan sekaligus menjadi dewan pemerintahan kerajaan Bone. Dan konon, sistem pemerintahan kawerang ini berlangsung sampai masa pemerintahan La Pattawe Raja Bone ke-9 yang memerintah
dalam tahun 1565-1602 Masehi.

Kawerang sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Bone, kemudian lambat laun berkembang ke seluruh wanua Tanete Riattang termasuk wanua Tibojong di sebelah timur sungai Bone.

Batas wilayah wanua Tanete Riattang kira-kira sekarang adalah batas Kantor Korem 141 tooddopuli membelok ke jalan MH. Thamrin sampai sungai Bone dan jalan Manurunge sekarang ini.

Pada Pemerintahan Raja Bone pertama lebih fokus pada pembuatan aturan-aturan kemasyarakatan dan hukum ditegakkan. Juga menjalin hubungan dengan daerah-daerah tetangga.

Sebagai politik Assiajingeng dan untuk meredam kembalinya zaman Sianre Bale, raja Bone Manurunge mencari permaisuri, kemudian ia kawin dengan Manurunge Ri Toro. Dalam perkawinan itu melahirkan 4 orang anak, yaitu La Umasa, I Pattanra wanua, We Tenri Salogo dan We Aratiga. Kemudian anaknya bernama La Umasa menggantikan ayahnya sebagai Raja Bone ke-2.

Selanjutnya, pada zaman La Umasa Raja Bone ke-2 berkuasa dalam tahun 1365-1398, Kota kawerang berkembang, baik jumlah penduduk maupun permukiman sehingga kota meluas seluruh wilayah Tanete Riattang dan arah perkembangan kota mulai begeser ke wanua Macege sebagai kampung industri pembuatan alat-alat pertanian dan senjata, utamanya Parang Cege.

Parang Cege (bangkung Cege), adalah parang yang bentuknya lebar. Macege berarti tempat pembuatan parang. Bahan baku besi didatangkan dari Kelling dekat Lampoko. Raja Bone La Umasa yang hobby dan ahli dalam pembuatan alat senjata dari besi. Kemudian Mendirikan Istana di wilayah Macege yaitu sekitar sumur Lassonrong.

Di Lassonrong kemdian La Umasa membuat istananya dengan nama istana Lassonrong. Istana Lassonrong tersebut mempunyai beranda di bagian belakang yang kelilingi gundukan tanah liat di atasnya pagar bambu yang runcing sebagai benteng. Inilah yang disebut Sonrong.

Lassonrong berarti istana yang mempunyai beranda belakang dan pagar benteng. Di beranda belakang istana sebagai tempat mallanro atau menempa besi milik La Ummasa. Landasan yang digunakan La Ummasa menempa besi disebut lanreseng. Dan lanreseng ini masih bisa disaksikan sampai sekarang di Museum La Pawawoi Watampone.

Pada masa pemerintahan La Ummasa banyak melakukan pengembangan wilayah baik dengan peperangan maupun dengan cara perkawinan. Baginda menaklukkan wanua Biru di selatan, wanua Cellu di timur dan Wanua Anrobiring dekat macege dan juga wanua Majang.

Pada tahun 1398 Raja Bone La Umasa meninggal dan dimakamkan di jeppee Jln. Jend. Ahmad Yani Watampone sekarang ini. Kampung tersebut disebut Jeppee karena pada masa itu daerah tersebut banyak ditumbuhi pohon Jeppe. Pohonnya besar dan tinggi menjulang. Sekarang wilayah itu sekitar jalan Ahmad Yani watampone.

Semasa hidupnya La umasa bergelar Petta Panre Bessie dan juga bergelar anumerta Petta To Mulaiye Panreng, yaitu yang pertama di makamkan.

La Umasa juga yang pertama bergelar Mangkau. Mengambil tradisi leluhurnya ketika Bone purba sebagai kerajaan Wewangriu bergelar Mangkau.

La Umasa mempunyai anak dua bernama To Suwalle dan To Salawakkang. Tetapi tidak menjadi Raja. Justru yang menggantikan La Umasa adalah kemanakannya. Anak Raja Palakka bernama La Saliyu Korampeluwa, yaitu raja termuda dalam sejarah Kerajaan Bone.

La Saliyu Karempalua sebagai Raja Bone ke 3 (1398-1470), dikisahkan, penculikan dirinya ketika masih bayi usia baru beberapa hari atas perintah Raja Bone La umasa untuk menggantikannya karena anak La Umasa tidak memenuhi syarat menjadi Raja.
Lalu hasil musyawarah Matoa Pitu yang pantas menjadi Raja adalah anak Raja Palakka La Pattikkeng sebab Ibunya adalah Saudara La Umasa anak dari ManurungE Anak Pattola. Hanya antara Raja Palakka La Pattikkeng dengan Raja Bone masih dalam pertikaian. Itulah sebabnya terjadi penculikan yang dipimpin oleh To Suwalle dan To Salawakkang.
Kisahnya perjalanan pulang dari Palakka setelah menculik bayi LaSaliyu oleh Sepupunya, anak dari Laumasa sempat beristirahat disuatu telaga untuk memercikkan air dan membasuh muka bayi La Saliyu. Bayi itu bergerak bangun (Cokkong) maka disebutlah sumur itu Lacokkong dan kemudian menjadi tradisi turun temurun setiap anak Raja yang dilahirkan wajib mandikan air Lacokkong.

Selain itu, disebut Laccokkong, dahulu sesudah La Ummasa Raja Bone Ke-2 daerah ini adalah daerah yang subur untuk pertanian. Artinya siapapun yang ditempatkan di wilayah itu, hidupnya akan makmur yang disebu Cokkong.
Masa pemerintahan Lasaliyu Kota Kawerang melebar ke Tanete Riawang. Karena di tempat itu berdiri Pasar hadiah dari Ayah La Saliyu Raja Palakka. Pasar tersebut sekarang menjadi Pusat pertokoan di dekat Tanah BangkalaE sebagai Pusat kota Watampone. Dan Istana Raja Bone ke-3 La Saliyu berdiri berdampingan dengan Pasar di depan istana dibuat alun alun disebut Tanah BangkalaE.

Dahulu Tanah Bangkalae berfungsi sebagai tempat berkumpul masyarakat mendengarkan informasi dari Raja atau Pejabat Istana. Kemudian akhirnya menjadi tempat pelantikan Raja-Raja Bone yang dimulai dari Raja Bone ke- 4 We Banrigau. Tanah BangkalaE dijadikan pula pusat Bone. Possi Tanah. Maka perkembangan kota Kawerang meluas mulai Wanua Tanteriatang, Macege utamanya Lassonrong, Tibojong dan Wanua Taneteriawang disebut To Kawerang, maksudnya orang kota. Adapun batas wanua Tante riawang Termasuk taman bunga dan sampai batas Bukaka dan batas di laccokkong sekarang.
Ketika Raja Bone Lasaliyu masih kanak-kanak, maka kedua sepupunya melaksanakan pemerintahan dengan tugas masing-masing:
To Suwalle bertugas mewakili Raja Bone urusan pemerintahan kedalam sebagai Tomarilaleng kedalam sebagai Tomarilaleng I Kerajaaan Bone
To Salawakka bertugas mengatur urusan pemerintahan keluar dan ini merupakan MakkedangngE Tanah I dari Kerajaan Bone.
Dalam pelaksanaan sehari-hari keduanya dibantu oleh para Matoa dari tujuh Wanua, setelah menanjak dewasa Raja Lasaliyu mengendalikan pemerintahan, namun tetap dibantu oleh kedua kakak sepupunya. Pada saat berangkat berperang atau kunjungan daerah (kerajaan palili) selalu membawa bendera dan Panji WorongporongngE dan CellaE. Juga baginda membagi Bone dalam tiga wilayah sesuai dengan pembagian bendera yaitu:
Bendera WorongporongE: mambawahi negeri Matajang, Mataangin (Maroanging), Bukaka, Bukaka tengah (kampong tengngaE), Kawerang , Pallengoreng dan Mallayirang (Mallari) dikoordinasi oleh Matoa Matajang.
CellaE ri Atau yaitu yang memakai umbul merah di sebelah kanan dari bendera WorongporoE dipergunakan oleh rakyat dari : Paccing, Tanete (dekat Palenggoreng), Lemo-Lemo ( Desa Carebbu ), Masalle (dekat Melle), Macege, dan Belawa (dekat Maccope). Dipimpin oleh To Suwalle digelar Kajao Ciung.
CellaE ri Abeyo yaitu Negeri yang memakai umbul merah di sebelah kiri dari WorongporoE: Araseng, Ujung, Ponceng, Ta’, Katumpi, Padacengnga (desa Padaidi dekat Passippo) dan Madello (dekat desa Mico). Dipimpin oleh To Salawakka digelar Kajao Araseng.
Dalam Lontara disebutkan bahwa Raja ini menaklukkan Negeri Pallengoreng (sebelah selatan Biru), Sinri (dekat Majang), Sancoreng (Ponre), Cerowali, Apala, Bakke Tanete(cina), Attang Salo(dekat Katumpi), Soga, Lampoko, Lemoape, Bulu(dekat Cerowali), Parippung, dan Lompu, Limampanuwa ri Lau-Ale. Dan pada masa itu Palakka disatukan dengan Kawerang. Juga beberapa wanua datang bergabung secara sukarela. Sehingga kerajaaan-kerajaan tua seperti Cina, Pattiro, Awangpone, Barebbo dan Palakka sudah bergabung dengan Bone.
Baginda membuat perkampungan disebelah utara Kawerang dekat sungai Panyula dan Limpenno (muara sungai dekat Toro) sebagai tempat pelabuhan bagi perahu-perahu kerajaan di tambatkan bersama tempat tinggal pendayung dan petugas perahu Raja.

DARI KOTA KAWERANG MENJADI KOTA LALEBBATA.

Raja Bone ke-6 La Uliyo BoteE (1535-1560) adalah pendiri benteng kota sekaligus peletak sistem perkotaan yang tangguh sebagai kota yang mandiri dan modern pada zamannya. Baginda dikenal pandai cermat dalam perencanaan. Pada masa berkuasa baginda didampingi seorang penasihat terkenal Kajao Laliddong yang sering dijuluki Lamellong.
Kajao Laliddong yang dipercayakan mengarsiteki sekaligus pimpinan proyek (pimpro) dalam pembangunan kolosal membangun benteng Kota. Sehingga ada ungkapan ceritra rakyat Bone bahwa “Cicengmi narenreng tekkenna Kajao Laliddong natepui bentengE”.
LALEBBATA KOTA BENTENG
Benteng atau dalam bahasa bugis Lalebbata ini dibuat dari tanah liat diambil dari bukit bukaka. Benteng ini rata-rata tingginya 5 meter. Tebal dinding atas kurang lebih 2 meter dan Tebal dinding bawah (pondasi)15 meter. Sepanjang dinding luar benteng ditanami pohon bambu dan berbagai jenis pohon berfungsi untuk menahan dan mengikat tanah benteng.
Bahan Pembuatannya diambil dari sebagian tanah bukaka. Tapi dinding benteng bagian utara dan timur di samping dari Tanah Liat juga diambil dari tanah disekitar atau di dalam wilayah benteng untuk dijadikan persawahan.
Tehnik pada pembangunan benteng tidak memakai alat perekat tetapi teknik sederhana susun timbun yang mengikuti kontur tanah. Bukan terbuat dari batu merah atau dinding dari batu gunung yang sudah dipahat. Walau ada sebagian benteng memakai batu utamanya dibagian Pintu utama keluar.
Bentuk benteng Bone awalnya segi empat panjang. Kemudian Raja berikutnya melakukan penambahan tinggi benteng dan dipertebal dinding benteng oleh Raja Bone La tenrirawe. Hal inilah nama Kota Kawerang berubah menjadi Lalebbata. Sesuai bentuk kota yang baru dengan adanya benteng dan meluas hampir semua wilayah wanua pitu masuk dalam area benteng.
Pada 1630 Raja La madderemmeng berkuasa mengalami pelebaran Benteng sebelah Timur dan Utara dan menambah bastion-bastion dekat SalekoE. Bentuk sudut benteng melingkar sebagai bastion dan dipasang meriam-meriam besar. Apalagi suasana politik ketika itu memanas dengan kebijakan Baginda penghapusan perbudakan. Model Benteng berubah dari segi empat panjang menjadi trapesium. Selain ada pintu Utama Benteng (Seppa Benteng) juga disetiap sisi benteng ada pintu-pintu untuk akses masuk bagi penduduk. Benteng ini dibuat sebagai alat pertahanan juga sebagai pusat pemerintahan. Oleh karena sumber kekuasaan berada di istana maka peletakan benteng juga berperan untuk pertahanan pusat-pusat hunian dan sumber daya yang ada disekitarnya.
JEJAK BENTENG
Jika menyelusuri Benteng dimulai dari sudut sebelah selatan kota, benteng berdiri di atas jalan Kalimantan sekarang terus ke timur melewati pinggir jalan Kawerang melalui persawahan dekat sungai Bone. Di tempat itu berdiri bastion. Lalu ke timur lagi dekat jalan Pramuka disebut Diattang Benteng. Kemudian membelok ke Utara dan di sudut benteng itu terdapat Bubung LoppoE (sumur besar) digunakan untuk persediaan air bagi prajurit Bone.
Ke utara benteng melalui persawahan dekat mesjid jalan Bajoe dan disebut Seppa BentengE. Dan membelok ke arah barat di atas jalan, pada sudut benteng membulat sebagai bastion tetapi ada pula pelebaran benteng dekat Salekoe juga berdiri Bastion-bastion.
Diatas jalan menuju Bukaka membelok ke utara kira-kira 200 meter ke arah barat menuju Bukaka dekat Bubung Lagarowang. Komplek kuburan KalokkoE masuk dalam benteng. Disebut Awang Benteng dari Bukaka menuju ke selatan antara jalan Makmur dengan jalan Benteng adalah bekas benteng dan bertemu di jalan Kalimantan dekat Kantor Dinas Kesahatan. Benteng-benteng ini hancur akibat peperangan utamanya dalam perang Bone dengan Belanda. Pada tahun 1920-an benteng-benteng ini umumnya diambil tanahnya dijadikan jalan raya, seperti bagian selatan kota Watampone benteng itu dijadikan jalan Kalimantan sekarang dan begitupula Lapangan Persibo ditimbun dari tanah benteng yang dahulu adalah persawahan.
WATAMPONE
Ibukota Lalebbata kerajaan Bone berakhir tahun 1905. Ketika Tentara Belanda menaklukkan Bone dengan hasil musyawarah pada tanggal 24 Agustus 1905. Kota Lalebbata berubah menjadi Watampone pada musyawarah Ade Pitu bersama Hindia Belanda di Bola SubbiE Istana Raja La Pawawoi Karaeng Sigeri.
Istana kebanggaan Kerajaan Bone berukir dan besar menghadap Taman Raja atau sekarang Taman Bunga. Kemudian Istana ini di pindahkan ke Makassar dan berdiri di depan Karebosi sebagai tanda penaklukan Bone. Dan kembali ke Bone pada tahun 1922 atas permintaan Rakyat Bone Tetapi sayangnya Istana Bola SubbiE tidak utuh lagi.
Watampone yang berarti Pusatnya Bone. Zaman pemerintahan Hindia Belanda Penataan Kota dibangun. Area kota ditata mulai Wilayah ekonomi, Agama dan pendidikan, pemerintahan dan kalangan bangsawan. Jalan-jalan dibuat, Pohon Asam dan Kenari ditanam di pinggir jalan. Taman ditata seperti Koning Plein atau Taman Raja sekarang jadi Taman Bunga. Dan bangunan bangunan berciri Kolonial didirikan. Istana Raja Bone dibangun untuk menggantikan Istana Bola SubbiE menjadi Kantor Dewan Adat Pitu(Perpustakaan Umum Daerah sekarang di Jalan Merdeka). Yang dipersiapkan Raja Bone La Mappanyukki pada tahun 1930 (Meseum Lapawaoi sekarang).
Bola Soba dipindahkan di jalan Veteran sebagai markas Marsose dan dididrikan Rumah Pejabat Hindia Belanda dengan sebutan Tuan Petoro Bottoa(Controler Residen). Dan Tangsi-tangsi militer dan juga Rumah Sakit.
tahun 2016 Bone telah berusia 686 tahun tetapi jauh dari usia itu Tanah Bone telah ada dengan penduduknya. Sudah tiga kali pergantian nama Ibukota sejak tahun 1330 sampai sekarang . Tetapi penduduknya masih tetap dan senang menyebut ibukotanya dengan sebutan Bone.
Kota Watampone telah menyimpan sejarah panjang dengan penduduknya tetapi tidak memperlihatkan suatu kota sarat sejarah masa lalu apalagi sebagai ibukota kerajaan Bugis terbesar. Oleh karen itu saatnya sekarang bangunan-bangunan tua bersejarah dan situs-situs perlu dipertahankan dan dilindungi sebagai identitas kota tua.
Jika sekarang mau bangun Bone mestinya atau paling tidak pelajari dulu sejarahnya, agar yang dibangun itu bernilai edukatif yakni bisa memberikan informasi dan pembelajaran kepada generasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya