oleh

Nilai-nilai Pendidikan dalam Paseng (Pesan) Orang Tua Bugis

Pendidikan mengandung banyak sekali nilai-nilai kehidupan. Nilai moral yang dapat dikembangkan misalnya menyangkut nilai kejujuran, rasa ingin tahu, serta keterbukaan dan sebagainya. Proses pendidikan dalam hal ini merupakan proses mempelajari serta mengambil makna pada kehidupan dan dunia di sekeliling kita.

Pendidikan nilai hendaknya diintegrasikan pada lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan nilai tersebut mencakup nilai-nilai (value) dalam kehidupan yaitu: nilai religius, nilai kultural, nilai yuridis formal, dan nilai metafisik (hakikat realitas).

Demikian pula, untuk membangun wujud kebudayaan orang Bugis sebagai dasar untuk mencapai kesempurnaan hidup, maka perlu menyediakan ramuan pengetahuan pengalaman masa silam yang lebih banyak.
Hanya dengan demikian nilai-nilai budaya itu dapat menjiwai pertumbuhan sekalian aspek kebudayaan Indonesia, baik di masa kini maupun di masa depan (Mattulada, 1995).

Penggalian dan kajian terhadap budaya masa silam seperti paseng mempunyai arti karena melukiskan ajaran-ajaran tentang moral. Paseng yang merupakan pola dasar pegangan hidup orang Bugis tertulis dalam Lontara.

Pappaseng to-riolo (pesan-pesan orang tua dulu) merupakan sebuah tradisi sastra lisan masyarakat Bugis yang dituturkan oleh orang tua dahulu kepada generasinya agar mereka tahu bagaimana harus bertindak dan beretika dalam masyarakat.

Sebagai masyarakat Bugis perlu mengetahui secara mendalam tentang arti pentingnya pappaseng sebagai wasiat orang tua kepada anak cucunya untuk dijadikan sebagai suatu pedoman untuk pegangan dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Karena orang yang teguh memelihara paseng akan senantiasa terpandang di tengah masyarakat. Sebaliknya yang mengabaikan secara langsung atau tidak langsung akan menanggung risiko yang besar, baik berupa sanksi sosial dari masyarakat maupun berupa peringatan atau hukuman dari Dewata SeuwaE (Tuhan Yang Maha Kuasa).

Kehadiran paseng sebagai salah satu kearifan lokal budaya Bugis sangat penting untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah pendidikan. Di dalam uraian berikutnya diuraikan bagaimana setiap kata itu membentuk sebuah penyimbolan untuk pesan yang mengandung nila-nilai pendidikan karena kita ketahui, bahwa bahasa yang terdapat dalam paseng bukan bahasa biasa melainkan bahasa yang banyak mengandung unsur-unsur figurative (bersifat khiasan).

Nilai-Nilai Pendidikan dalam Paseng Orang Tua Bugis merupakan kebijaksanaan lokal sebagai khazanah warisan kebudayaan yang seharusnya senantiasa tetap mendapatkan perhatian dalam upaya bersama membangun sebuah bangsa majemuk yang berbudaya. Dari local wisdom tersebut, dapat diserap berbagai sari jati diri bangsa yang kaya akan keanekaragaman budaya dan tradisi.

Dalam hal pendidikan, local wisdom menyediakan demikian banyak prinsip-prinsip dasar yang dapat diapresiasi secara lebih serius dalam upaya mengkonstruksi nilai-nilai pendidikan nasional. Dari local wisdom, dapat ditemukan semacam kearifan budaya yang demikian kuat membentuk kultur pembinaan moral dan etika pada masyarakat lokal.

Bugis sebagai salah satu lokalitas yang membangun kebhinekaan budaya Indonesia juga memiliki seperangkat local genious yang dipraktikkan dalam kehidupan kultural mereka.
Dalam local genious Bugis tersebut dapat pula ditarik beberapa prinsip dasar tentang kehidupan manusia Bugis (Moein, 1990).

Local genius menurut F.D.K Bosch (1952) adalah kemampuan yang dimiliki suatu pendukung budaya untuk membuktikan seberapa kuat dasar-dasar kepribadian budayanya pada saat menghadapi akulturasi budaya.

Kekayaan kearifan lokal Bugis, dapat diperoleh dalam berbagai karya sastra Bugis klasik yang memuat beragam kearifan dan ternyata masih relevan dengan kehidupan sekarang ini.
Beberapa sumber kearifan lokal tersebut adalah Sure Galigo, Lontara, Paseng, dan Elong.

Pada dasarnya masyarakat Bugis terbina moral dan karakternya melalui paseng yang merupakan pola dasar pegangan hidup. Untuk itu diperlukan penguraian yang lebih mendalam. Berikut ini diuraikan beberapa Paseng yang mengandung nilai pendidikan soft skill.

1. Contoh Pappaseng Mengenai Perilaku dan Pengalaman :

” Tangngai gau’mu naiya muala anre guru. Mualai madécéngngé mutettangi majae. Apa iya adaé sionrommui jana sibawa decenna, makua mutoro nawa-nawaé ”

Terjemahan : Amatilah perbuatanmu dan jadikan sebagai guru (guru dimaksudkan di sini sebagai pedoman dalam bertindak), petiklah yang baik dan tinggalkan yang buruk. Sebab perkataan itu tempatnya keburukan dan kebaikan demikian pula pemikiran.

Penjelasan: guru yang paling baik adalah pengalaman dari hasil perbuatan. Dari hasil perbuatan itu kita mendapatkan pengalaman belajar di mana kita akan memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk. Perkataan seseorang menunjukkan hasil dari belajarnya atau pendidikannya.

2. Contoh Pappaseng Mengenai Kepintaran :

“Tanra-tanranna narekko maeloni kiame linoé gilinni bébé tau maccaé ”

Terjemahan: “Tanda-tanda kalau dunia akan kiamat, berbalik menjadi bodoh orang yang pintar.

Penjelasan : selama orang pandai memanfaatkan kepandaiannya untuk kebaikan, selama itu ia tidak merusak. Akan tetapi bila kepandaiannya disalahgunakan, maka berubahlah ia menjadi bodoh.

Karena tidak tahu lagi bagaimana memanfaatkan kepandaiannya sehingga ia menghancurkan masyarakat dan kehidupan manusia. Jika terjadi hal demikian mungkin dunia belum kiamat betul tetapi dunia kemanusiaan sudah kiamat.

Sebagian lagi cendekiawan yang masih sadar terpaksa bersama orang yang bodoh karena kebenaran yang dianut dari ilmunya tidak lagi mendapat tempat dan penghargaan dari masyarakat.

3. Contoh Pappaseng Mengenai Sifat (Perilaku):

” Sipa’mi paompoki assalengngé ‘

Terjemahan : “Wataklah yang menunjukkan asal usul”.

Penjelasan : jika kita bergaul dengan orang yang berkelakuan tercela, akan timbul anggapan bahwa orang tersebut adalah keturunan yang tidak baik pula, meskipun hal itu hanya dugaan. Dugaan itu karena pertimbangan, bahwa orang baik akan mendidik anaknya secara baik pula.

Akan tetapi apabila ada anak yang yang berkelakuan tercela sedangkan orang tuanya berperilaku baik, hal itu berarti bahwa orang tuanya telah gagal menjadi pendidik yang baik bagi anaknya.

Pendidikan mulai dari rumah atau keluarga, dan kesalahan utama dari orang tua yang gagal sebagai pendidik dikarenakan terlalu mencintai anaknya sehingga mereka memberikan kesenangan terhadap anak tersebut bukan ilmu.

Yang dimaksudkan asal usul di sini adalah yang menyangkut watak seseorang. Bukan menyangkut kedudukan sosial. Karena orang yang paling miskin bukanlah orang yang tidak memiliki harta tetapi yang miskin pendidikan dan budi pekerti.

4. Contoh Pappaseng Mengenai Tujuan Hidup :

” Padai manu déé léranna ”

Terjemahan : “Seperti ayam tanpa teratak”.

Penjelasan : paseng ini diumpamakan bagi orang yang tidak memiliki tujuan hidup. Atau orang yang tidak mengetahui, bahwa yang terpenting di dunia ini bukan kerja di mana kita berdiri, akan tetapi ke arah mana kita akan pergi (tujuan hidup). Untuk itu agar tidak tersesat kelak maka kita harus terdidik dan memiliki tujuan hidup, karena orang yang tidak terdidik dan memiliki tujuan hidup akan disesatkan oleh zaman.

5. Contoh Pappaseng Mengenai Pendapat dan Kesepakatan:

” Tessirebbang tangnga, tessiwelaiyang janci

Terjemahan: “Tidak ada batas membatasi pertimbangan, tidak ingkar janji”.

Penjelasan : Di dalam kehidupan bermasyarakat, agar hubungan dengan pihak lain terjalin erat dan mencapai kerja sama yang tinggi, diperlukan pertimbangan-pertimbangan bersama guna saling mengisi kekurangan masing-masing dan kerja sama lebih kuat bila masing-masing menepati janji.

Paseng ini mendidik manusia untuk saling berbagi pendapat dan ilmu. Seperti halnya mutiara bertambah indah, karena diuntai menjadi perhiasan, seindah hidup bila dijalin dengan pengertian dan kerja sama yang baik.

Dari beberapa contoh paseng yang diuraiakan di atas, berharap bisa kembali mengingat kearifan lokal budaya kita karena sebenarnya nenek moyang kita dahulu kala telah banyak meninggalkan pelajaran yang sangat penting dan berharga dalam berkehidupan dan bermasyarakat.

Ajaran mereka murni dan tanpa terpengaruh budaya-budaya modernisasi yang kadang menyesatkan bagi kehidupan masyarakat.
Untuk itu, sudah selayaknyalah kita melihat ke belakang dalam artian kembali melirik kearifan lokal budaya kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi saat ini.

Sebagai generasi pelanjut, selayaknya kita kembali mengingat pesan-pesan nenek moyang kita dahulu. Jangan sekadar dipelajari di bangku sekolahan tapi juga diterapkan dalam bermasyarakat agar kehidupan bermasyarakat bisa terjalin aman, tentram, dan damai.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya