Sejarah Istana Bola Subbie Bone

Bola Subbie biasa juga disebut Bolamparee terletak di Jalan Merdeka, Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Bekas istana ini dibangun tahun 1871 oleh ratu Bone ke-30 We Fatimah Banri yang memerintah di kerajaan Bone ( 1871-1895).

Masa pemerintahan We Fatimah Banri istana ini disebut Bolamparee, dan di istana inilah sang ratu mengembuskan nafas terakhirnya. Sehingga ia dijuluki Matinroe ri Bolampare’na (yang meninggal di istananya).

Oleh karena itu nama lengkapnya cukup panjang, yaitu We Fatimah Banri Datu Citta Arung Timurung Sultanah Fatimah Matinroe ri Bolampare’na.

Bolampare’ artinya rumah besar dan panjang yang berdiri melintang tidak menghadap ke arah jalanan seperti rumah biasanya, tetapi berdiri menyamping.

We Fatimah Banri meninggal tahun 1895 kemudian digantikan oleh saudaranya yang bernama La Pawawoi Karaeng Segeri sebagai raja Bone ke-31 (1895-1905).

Akhir pemerintahan La Pawawoi berakhir pada masa perang Bone IV di mana dalam peristiwa itu lebih dikenal dengan peristiwa Rumpa’na Bone (bobolnya pertahanan Bone terhadap serangan tentara Belanda).

Sebagai bukti penaklukan atas Bone, maka Belanda menyita istana raja Bola Subbie lalu dipindahkan ke Ujung Pandang tahun 1907. Ditempatkan di kawasan Lapangan Karebosi Ujung Pandang.

Namun 25 tahun kemudian atas permintaan raja Bone La Mappanyukki, istana Bola Subbi’e dipulangkan kembali ke Bone oleh Belanda tahun 1932. Namun, sayangnya tiang-tiang rumah panggung bekas istana itu sudah tidak ada.

Setelah penyerangan Belanda yang sukses itu, maka Bone mengalami kekosongan pemerintahan kerajaan selama 26 tahun. Dalam rentang waktu tersebut digunakan oleh Belanda membangun infrstruktur jalan dan pertanian.

Istana Bolamparee Bone yang kemudian dikenal sebagai Bola Subbie Bone

Belanda membangun jalan poros Bone-Wajo (1923), poros Bone-Maros termasuk terowongan Sumpang Labbu/Batu Goro’e (1923), membangun Bendungan Palakka (1923). Kesemuanya itu dibangun pada tahun yang sama dengan melibatkan teknisi-teknisi Belanda yang mempekerjakan penduduk lokal secara paksa.

Setelah La Pawawoi Karaeng Sigeri turun takhta barulah kemudian digantikan oleh La Mappanyukki sebagai raja Bone ke-32 (1931-1946). Ia dilantik oleh Belanda atas izin Adat Tujuh Bone, pada tanggal 2 April 1931.

Acara pelantikan La Mappanyukki sebagai raja Bone dilaksanakan secara adat di alun-alun (Lapangan Merdeka Watampone sekarang ini) yang dihadiri para pembesar Belanda.

Keadaan Istana Bola Subbie sekarang ini

Tahun 1932 Bola Subbi’e digunakan oleh La Mappanyukki untuk menjalankan roda pemerintahan di Bone bersama Ade’ Pitu.

Jadi pada awalnya Bola Subbie merupakan rumah panggung yang ditopang sebanyak 50 tiang serta dilengkapi lego-lego bagian depan. Selain itu bagian dinding tiap petak diberi ventilasi udara sebagai tellongeng (jendela).

Dinding ustana Bola Subbie dibuat berukir sangat indah pertanda kalau di Bone masa lalu memiliki SDM dengan tangan-tangan seni yang andal pada masanya.

Dari sisi bahasa, Bola Subbie berarti rumah yang berukir, maklum istana tersebut dibangun atas perintah si Ratu Bone yang cantik, yaitu We Fatimah Banri.

Bahkan istana Bola Subbie ini sewaktu berada di Ujung Pandang pernah dibuat miniaturnya oleh Belanda untuk mengisi galeri paviliun karya seni di Semarang, Jawa Tengah. Di mana Bola Subbie mewakili karya seni dari Celebes masa itu.

Kini Istana Bola Subbie duduk termenung tanpa tiang sehingga tampak dalam keadaan “meppo” (berdiri tanpa kaki/tiang).

Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno pernah berkunjung ke Bone awal 1950 dan berpidato di Bola Subbi’e.

Saat ini bekas istana tersebut dipergunakan menjadi gedung perpustakaan daerah kabupaten Bone. (Mursalim).