oleh

Tradisi Menyirih (Mota)

Tradisi Menyirih (Mota)

Tradisi nyirih mempunyai beberapa manfaat seperti meningkatkan kapasitas bekerja, menimbulkan sensasi panas dalam tubuh dan meningkatkan kewaspadaan.

Menyirih juga dilakukan oleh orang-orang kurang mampu untuk menghindari kebosanan dan menekan rasa lapar.

Kegiatan menyirih amat sangat banyak dijumpai di daerah Bugis Sulawesi, Jawa dan Nusa Teggara Barat . Sebagian besar orang yang gemar menyirih adalah orang-orang lansia dan orang-orang yang masih menghormati adat-adat budaya warisan leluhur atau nenek moyangnya.

Menyirih biasanya dilakukan untuk mengisi waktu luang mereka, karena mereka beranggapan, bahwa dengan menyirih mereka juga bisa menghilangkan beban pikiran yang sedang mereka hadapi,

Selain itu bisa mengganjal rasa lapar, mengusir rasa kejenuhan, dan juga bisa memperkuat gigi mereka. Menyirih juga merupakan hobi bagi mereka.

Setelah mengeluarkan sisa daun sirih dan pinang, rasa yang ditimbulkan di mulut seperti sehabis menggosok gigi. Segar, kesat dan terasa bersih. Hal itu timbul dari daun sirih yang memiliki sifat alami sebagai antiseptik atau membunuh kuman.

Mungkin pada zaman dahulu, nyirih memang digunakan untuk membersihkan mulut sebelum mengenal sikat dan pasta gigi.

Sebelum mengenal pasta gigi dan sejenisnya, orang-orang dahulu menggunakan beberapa cara untuk merawat gigi agar tetap sehat dan kuat.

Salah satunya dengan nyirih, yang saat ini tradisi tersebut masih dapat kita jumpai di desa-desa walaupun iklan pasta gigi kian menjamur. Namun rasa dan kenikamatan menyirih bagi penikmatnya tidak bisa terganti dengan rayuan iklan-iklan tersebut.

Kegiatan menyirih dalam bahasa Bugis disebut mota, dan sampai saat ini masih banyak ditemukan di pedalaman kampung Bugis.

Konon orang dahulu yang punya kebiasaan menyirih tidak pernah merasakan yang namanya sakit gigi.

Selanjutnya