oleh

Sejarah Tari Pajaga Welado

Setiap kerajaan Nusantara di masa lalu masing-masing memiliki angkatan perang untuk melindungi diri dari serangan dari luar. Tak hanya itu, raja sebagai pemimpin pemerintahan juga perlu mendapat penjagaan dan perlindungan ekstra secara khusus.

Demikian juga di kerajaan Bone selain membentuk laskar kerajaan juga terdapat perlindungan khusus bagi raja yang disebut pajaga atau penjaga, yaitu sekelompok orang yang bertugas melindungi raja dan keluarganya baik waktu siang maupun malam. Mereka dibekali berbagai senjata untuk untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dikehendaki yang bisa mengganggu ketenteraman dan keselamatan raja dan keluarganya.

Untuk tetap bersemangat dan memelihara kekompakan serta kejenuhan selama bertugas, maka para penjaga ini menghibur diri dengan berbagai gerakan-gerakan. Mereka membuat gerakan-gerakan harmonis. Dari sinilah sehingga disebut tari penjaga atau tari pajjaga yang masih sangat sederhana.

Penjaga raja seperti ini berlangsung hingga pemerintahan raja-raja selanjutnya. Dari berbagai penelitian penjaga raja ini sudah ada sejak masa pemerintahan raja Bone ke-7 La Tenrirawe Bongkange yang memerintah dalam tahun 1560-1564.

Salah seorang ratu Bone yang dikenal penari dan memiliki jiwa seni yang tinggi adalah We Fatimah Banri Datu Citta Arung Timurung raja Bone ke-30 yang memerintah dalam tahun 1871-1895.

Dalam pemerintahannya Ia membentuk pengawal pribadi sebagai penjaga. Kemudian menyuruh adiknya yang bernama La Pawawoi untuk mencari orang-orang terpilih. La Pawawoi pada masa itu yang juga menjabat sebagai panglima atau dulung Ajangale sangat menguasai daerah tersebut. Lalu ia menunjuk sekelompok laki-laki terpilih dari Welado yang dinilai memiliki kemampuan untuk menjaga sang ratu. Kelompok orang dari welado ini kemudian melaksanakan tugas menjaga di istana Bolamparee tempat tinggal We Fatimah Banri.

Agar penjaganya itu tidak jenuh dan mengantuk di waktu malam ketika berjaga-jaga, Lalu We Fatimah Banri turun dari istananya untuk memberikan contoh gerakan-gerakan harmonis dan terstruktur yang dilengkapi properti alat-alat perang seperti
ballili (senapan) bessi (tombak), kalio (perisai), seppu (sumpitan) dan lenso (sejenis sapu tangan yang terbuat dari kain).

Sementara Ballili, bessi, kalio, dan seppu terbuat dari kayu jati atau nangka yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk senapan, tombak, perisai), dan sumpitan.
Adapun penari dari tari Pajaga Welado awalny berjumlah 12 orang penari laki-laki dan 2 orang pegendang. Dari sinilah sehingga tercipta tari pajjaga welado.

Namun demikian, menurut Budayawan Bone yang juga pandai menari Andi Najamuddin Petta Ile, bahwa informasi ini tetap membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Kemudian menurut beliau Tari Pajaga ini sangat populer pada masa pemerintahan raja Bone La Pawawoi, bahkan pada waktu pelantikan Andi Mappanyukki sebagai raja Bone ke-32 Tari Pajoge ini ditampilkan di alun-alun Watampone atau lapangan Merdeka sekarang.

Dalam catatan sejarah, sebelum We Fatimah Banri menjadi raja Bone, adiknya yang bernama La Pawawoi kelahiran tahun 1835 sudah menjabat sebagai dulung atau panglima di Ajangale pada tahun 1865. Ketika kakaknya We Fatimah Banri menjadi raja, kemudian ia diangkat sebagai tomarilaleng.

We Fatima Banri dikenal memiliki jiwa seni yang tinggi, ia memerintahkan agar perempuan Bugis memakai gaun lengan panjang yang sebelumnya memakai waju ponco’ ( baju lengan pendek). Dikenal sangat taat menjalankan ajaran agama Islam.

Dalam pemerintahan ia sangat tegas namun berhati lembut. Hal itu ditandai ketika sang ratu memainkan tari-tarian. Dari jiwa seninya itu, maka diawal pemerintahannya dibangunlah sebuah istana rumah panggung yang disebut Bolampare’e tahun 1871. Dinding istana dihiasi dengan ukiran sehingga istana itu disebut pula Bola Subbie.

Selain itu, ia juga menciptakan Tari Pajaga Welado yang pada masa itu saudaranya La Pawawoi menjabat sebagai dulung ajangale tahun 1865.

We Fatimah Banri anak dari raja Bone ke-29 Singkeru Rukka. We Fatimah Banri juga dikenal sebagai datu citta dan Arung Timurung sebelum menjadi raja Bone ke-30

We Fatimah Banri, Datu Citta, Sultanah Fatimah, Matinroe ri Bolampare’na adalah ratu Bone ke-30. Ia memerintah di kerajaan Bone selama 24 tahun dari tahun 1871-1895. We Fatimah Banri menggantikan ayahnya yang bernama Singkeru Rukka raja Bone ke-29.

Setelah We Fatimah Banri meninggal digantikan oleh Adik kandungnya yg bernama La pawawoi karena dinilai lebih cakap untuk mengendalikan situasi dan pemerintahan di Bone. Selain itu, La Pawawoi memang sudah dikenal baik oleh pembesar Belanda. Oleh karena itu diangkatlah La Pawawoi Karaeng Sigeri sebagai raja Bone ke-31 tahun 1895-1905. memerintah selama 10 tahun.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya