Pengertian Stamboom Pada Suku Bugis

Stamboom (bahasa Belanda) artinya silsilah, garis keturunan, daftar silsilah keturunan. Dalam bahasa Bugis sering disebut stambulu’ atau stambolo’.

Golongan manapun bisa menyusun stamboom tentang asal usul keturunannya dengan tujuan untuk mengidentifikasi panggoriseng atau keturunan keluarganya. Dengan begitu memudahkan saling mengenal di antara mereka.

Tidak heran banyak kalangan membuat sendiri stamboom keluarganya baik itu golongan bangsawan/ningrat maupun golongan biasa. Jadi singkatnya stamboom adalah silsilah keturunan.

Andi dalam Suku Bugis menandakan gelar keturunan bangsawan. Gelar Andi ini yang diletakkan di depan nama orang yang bersuku Bugis diciptakan Belanda untuk menandai kaum bangsawan yang terpelajar.

Kata Andi dikenalkan oleh B.F. Matthess, misionaris asal Belanda dan juga pendiri sekoleh OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche /Ambtenaren) di zaman Kolonial Belanda di Indonesia.

Ketika hendak menulis Standen Stelsel (asal usul) di Zuid Celebes Sulawesi Selatan, dia memberikan titel Andi kepada semua golongan bangsawan yang berada di jangkauan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Setelah menguasai Makassar, pemerintah kolonial Belanda mengintervensi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Dan ketika sistem pemerintahan kolonial berjalan maka dibutuhkan tenaga-tenaga ahli yang memiliki kemampuan baca tulis, singkatnya kaum terpelajar.

Upaya tersebut dilakukan dengan mendirikan sekolah-sekolah Belanda. Di Makassar sebagai tempat kedudukan pemerintahan kolonial dibangun sekolah lanjutan seperti OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) yaitu sekolah pendidikan bagi calon pegawai-pegawai bumiputra pada zaman Hindia Belanda. Setelah lulus mereka dipekerjakan dalam pemerintahan kolonial sebagai pamong praja.

Kemudian MULO (Meerder Uitbreiding Lager Onderwijs), yaitu Sekolah Menengah Pertama pada zaman pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti “Pendidikan Dasar yang Lebih Luas”. MULO menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap kabupaten di Jawa dan Sulawesi, serta pulau lainnya di Nusantara.

Selajutnya AMS (Algemene Middelbare School), yaitu pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda dengan masa studi tiga tahun yang menerima lulusan MULO.

Normaal School, yaitu sekolah yang melatih para lulusan sekolah menengah atas untuk menjadi guru. Sebagian besar dari sekolah semacam ini sekarang masuk ke dalam perguruan tinggi keguruan.

Selain itu Belanda juga mendirikan HIK (Holland Indlands Kwekschool), yaitu sekolah guru bantu yang ada di semua Kabupaten.

Sementara di wilayah distrik, dibangun sekolah Gubernemen atau Sekolah Desa dan Volks-School untuk sekolah lanjutan tiga tahun. Dan untuk pendidikan di tingkat Afdeling didirikan sekolah seperti HIS dan Schakel School.

Untuk dapat mengikuti sekolah dari tingkat HIS atau sekolah pamongpraja yang lazim disebut Sekolah Raja seperti OSVIA, maka setiap siswa harus menyertakan stamboom (daftar silsilah keturunan) dan lembar pernyataan kesetiaan pada pemerintah Hindia Belanda. Karena sekolah-sekolah ini mencetak pegawai untuk pejabat-pejabat pemerintahan dan pegawai administrasi di perusahaan Belanda.

Anak-anak bangsawan yang telah menamatkan sekolah memperoleh gelar “Andi” di depan nama. Mattulada mencatat penggunaan gelar “Andi” ini dimulai sekitar tahun 1930-an oleh para kepala swapraja dan keluarga bangsawan untuk memudahkan identifikasi keluarga raja.

Menurut Budayawan Bone Andi Najamuddin, bahwa Andi berasal dari kata Anri (adik). Tidak boleh menyebut nama sebenarnya putra-putri raja/pemimpin, sebab apabila menyebut namanya dianggap masobe artinya tidak beradab. Sementara lidah orang Belanda tidak biasa menyebut (r) sehingga Anri menjadi Andi.

Dalam penggunaannya, terdapat peraturan dalam pemberian gelar andi. Aturan berdasarkan kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan, gelar Andi hanya boleh diturunkan dari garis ayah. Jika ayahnya tidak “Andi”, ia tidak boleh menempatkan gelar tersebut di depan namanya. Contoh penggunaan gelar andi, yaitu : Andi Mattalatta, Andi Palloge, Andi Maddussila, dll.

Dengan demikian stamboom tidak hanya dibuat masa lalu tapi juga sekarang ini semua bisa menyusun stamboom keluarga masing-masing. Sehingga tidak hanya merujuk pada golongan ningrat saja.

Referensi :

1. Mattalatta, Andi (2003). Meniti Siri dan Harga Diri: Catatan dan Kenangan. Jakarta: Khasanah Manusia Nusantara. ISBN 9789795300205.

2. Mattulada (1998). Sejarah, Masyarakat, dan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Makassar: Hasanuddin University Press. ISBN 9799730503, dan

3. Andi Najamuddin Petta Ile