oleh

Sukarno Mengunjungi Kerajaan Bone

Ketika Sukarno datang mengunjungi Kerajaan Bone di awal tahun 1950, untuk bertemu dengan La Mappanyukki, dengan tujuan mengajak kerajaan Bone untuk bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada waktu itu La Mappanyukki sangat diperhitungkan oleh Soekarno.

Memang pada saat itu Sukarno sedang gencar menyerukan persatuan, salah satunya dengan cara mengajak atau melobi kerajaan-kerajaan lokal di seluruh Nusantara untuk bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seperti kebiasaan Sukarno kalau berpidato. Di Bone pun saat itu ia berpidato dan berorasi politik di atas sebuah meja kayu sebagai panggung dadakan.

Soekarno sedang menyampaikan orasi politik di Bola Subbie tahun 1950

Tempat pertemuan itu diadakan di Bola Subbi’e yang merupakan bekas Istana Raja Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri. Masyarakat Bone lebih mengenalnya dengan sebutan Bola Subbie atau Rumah yang dihiasi dengan ukiran khas Bone.

Saat ini gedung bersejarah tersebut dijadikan gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Bone di Jalan Merdeka Watampone, Kabupaten Bone.

Presiden Sukarno di Makassar. Dari Kiri ke Kanan: Raja Bone bersama istri, Raja Gowa, Presiden Sukarno, dan Raja Buton. (Foto: Harian De Locomotief, 8 Agustus 1950).

Pemilihan tempat pertemuan di Bola Subbie punya alasan tersendiri. Bola Subbie adalah bekas istana Raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri yang memiliki nilai sejarah bagi Kerajaan Bone. Istana tersebut pernah menjadi basis perlawanan rakyat Bone yang kemudian disita oleh Belanda ketika Rumpana Bone tahun 1905.

Sukarno mengingatkan kesadaran patriotisme dan nasionalisme rakyat Bone agar semakin tergugah untuk mempertahankan kemerdekaannya dalam bingkai persatuan nasional.

Saat berpidato, Sukarno melepas jas kebesarannya, kemejanya dilipat sampai di bawah siku. Sebuah penampilan tak biasa bagi Sukarno yang biasanya selalu tampil bangga dengan jas jenderal kebesarannya.

Pertanyaan pun muncul, apakah pada saat itu cuaca kerajaan Bone begitu panas yang memaksanya harus melepas jas? Ataukah itu sebagai simbol bahwa dia tidak datang ke kerajaan Bone dengan nama besarnya sebagai Presiden Indonesia, tetapi sebagai manusia sebangsa yang ingin menggugah kesadaran persatuan bagi Kerajaan Bone?

Sukarno mengawali pidatonya dengan memberi salam penghormatan kepada Raja Bone beserta Ade’ Pitu atau Dewan Adat kerajaan Bone beserta seluruh Rakyat Bone. Selanjutnya dia berterima kasih telah diperkenankan hadir di kerajaan Bone.

Pidatonya runtun dengan nada agak pelan namun tetap menggugah seluruh hadirin yang ada pada saat itu. Sukarno memaparkan pentingnya persatuan bagi seluruh rakyat dan kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara khususnya Kerajaan Bone.

“Jika kita bersatu padu dalam satu Negara Kesatuan Indonesia, maka yakinlah bahwa Imperialisme dan Kolonialisme dapat kita singkirkan dari seluruh Bumi Nusantara. Kita sekalian akan bersatu-padu, bergotongroyong memperkuat Indonesia kita tercinta yang merdeka, berdikari dan sejajar dengan Negara-negara besar lainnya.” Ungkap Sukarno dalam pidatonya.

Pesan persatuan inilah kemudian yang berhasil menggugah Raja Bone dan Ade’ Pitu kerajaan Bone beserta seluruh rakyat Bone untuk bergabung kedalam Negara Kesatuan Indonesia.

Setelah kedatangan Presiden Soekarno tersebut, tidak berselang lama pertemuan kedua diadakan di Yogyakarta bertempat di Keraton Yogyakarta. Kali ini pertemuan tersebut dihadiri oleh Raja-raja se-Nusantara termasuk Andi Mappanyukki Raja Bone, Andi Djemma Datu Luwu, dan Imangimangi Raja Gowa.

Dalam pertemuan tersebut dicapai kesepakatan bahwa tiga kerajaan besar yang ada di Sulawesi yakni Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa menyatakan diri bersedia masuk dan bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menindak lanjuti kesepakatan ini maka Kerajaan Bone kemudian berganti status menjadi daerah Swapraja yang dikemudian hari menjadi Kabupaten Bone hingga saat ini. Andi Mappanyukki sebagai Raja Bone sekaligus sebagai Kepala Daerah Bone.

Sukarno Presiden Pertama Republik Indonesia, yang akrab dipanggil Bung Karno. Selama hidup beliau sejak masa muda, lalu menjadi tokoh pergerakan nasional, dan menjadi Presiden Pertama Indonesia, sampai meninggal dunia diceritakan secara lugas dari perspektif sejarah.

Sukarno dikenal juga sebagai orator ulung yang ahli membangkitkan semangat, sosok negarawan paripurna dan masih banyak lagi alasan mengapa Bung Karno patut dikenang. Untuk alasan kenang-mengenang, masyarakat Bone di Sulawesi Selatan secara khusus punya kenangan tersendiri denga Presiden Pertama Indonesia itu.

Berikutnya