Kumpulan Peribahasa Bugis

Berikut ini sejumlah peribahasa/pepatah Bugis yang kerap dituturkan nenek moyang Bugis.

1. Ade’ temmakké ana’ temmakké eppo.

Artinya: adat tak mengenal anak, tak mengenal cucu”. Maksudnya dalam menjalankan norma-norma adat tak boleh tak pandang bulu.

Misalnya, anak sendiri jelas-jelas melakukan pelanggaran harus dikenakan sanksi sesuai ketentuan adat yang berlaku.

2. Aja’ mupoloi olona tauwé.

Artinya: jangan memotong atau mengambil hak orang lain”. Maksudnya memperjuangkan kehidupan adalah wajar, tetapi jangan menjadikan perjuangan itu pertarungan kekerasan, saling merampas atau menghalangi rezeki orang lain.

3. Aja’ mumatebbe’ ada, apa’ iyatu adaé maéga bettuwanna. Muatutuiwi lilamu, apak iyatu lilaé paweré-weré.

Artinya: Jangan banyak bicara, sebab bicara itu banyak artinya. Jaga lidahmu, sebab lidah itu sering mengiris. Maksudnya jangan banyak bicara kalau permasalahan itu tidak dipahami dengan baik. Setiap tutur yang keluar harus dipertanggung jawabkan.

4. Aju maluruémi riala paréwa bola.

Artinya: hanyalah kayu yang lurus dijadikan tiang rumah”. Di sini rumah sebagai perlambang dari pemimpin yang melindungi rakyat. Hanya orang yang memiliki sifat lurus, jujur yang layak dijadikan pemimpin, agar yang bersangkutan dapat menjalankan fungsi perannya dengan baik.

5. Alai cedde’e risesena engkai mappedeceng, sampeangngi maegae risesena engkai maega makkasolang.

Artinya: ambil yang sedikit jika yang sedikit itu mendatangkan kebaikan, dan tolak yang banyak apabila yang banyak itu mendatangkan kebinasaan.

Maksudnya mengambil sesuatu dari tempatnya dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, termasuk perbuatan mappasitinaja (kepatutan). Kewajiban yang dibaktikan memperoleh hak yang sepadan adalah suatu perlakuan yang patut. Banyak atau sedikit tidak dipersoalkan oleh kepatutan, kepantasan, dan kelayakan.

6. Balanca manemmui waramparammu, abbeneng manemmui, iyakia aja’ mupalaowi modala’mu enrengngé bage labamu.

Artinya: “boleh engkau belanjakan harta bendamu, dan pakai untuk berbini, namun janganlah sampai kamu menghabiskan modal dan labamu”.

Peringatan pada pedagang (pengusaha) agar dalam menggunakan harta tidak berlebihan sehingga kehabisan modal dan membangkrutkan

7. Dé nalabu essoé ri tengngana bitaraé.

Artinya: “tak akan tenggelam matahari di tengah langit”. Manusia tidak akan mati sebelum takdir ajalnya sampai. Oleh karena itu keraguan harus disingkirkan dalam menghadapi segala tantangan hidup.

8. Duwa laleng tempedding riola, iyanaritu lalenna passarié enrengngé lalenna paggollaé.

Artinya: “dua cara tak dapat ditiru, ialah cara penyadap enau dan cara pembuat gula merah”.

Jalan yang ditempuh penyadap enau tak tentu, kadang dari pohon ke pohon lain melalui pelepah atau semak belukar, sehingga dikiaskan sebagai menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Pembuat gula merah umumnya tak menghiraukan kebersihan, lantaran nnya itu tak diketahui orang. Kedua sikap di atas tak pantas ditiru karena mempunyai itikad kurang.

9. Iapa nakullé taué mabbaine narékko naulléni magguli-lingiwi dapurengngé wékka pitu.

Artinya: “apabila seseorang ingin beristeri, harus sanggup mengelilingi dapur tujuh kali”.

Di sini dapur merupakan perlambang dari masalah pokok dalam kehidupan rumah tangga. Sedangkan tujuh kali merupakan padanan terhadap jumlah hari yang juga tujuh (Senin s/d Minggu).

Maksudnya, sebelum berumah tangga supaya memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab menghidupi keluarga setiap hari.

10. Jagaiwi balimmu siseng mualitutui ranemmu wekka seppulo nasaba ranemmu ritu biasa mancaji bali.

Artinya: “jagalah lawanmu sekali dan jagalah sekutumu sepuluh kali lipat sebab sekutu itu bisa menjadi lawan”.

Terhadap lawan sikap kita sudah jelas, namun yang harus lebih diwaspadai jangan sampai ada kawan berkhianat. Sebab, dengan demikian lawan jadi bertambah, dan membuat posisi rentan karena yang bersangkutan mengetahui rahasia (kelemahan) kita.

11. Lebbi-i cau-caurengngé napellorengngé.

Artinya: “lebih baik yang sering kalah daripada yang pengecut”. Orang yang sering kalah, masih memiliki semangat juang meskipun lemah dalam menghadapi tantangan. Sedangkan pengecut, samasekali tak memiliki keberanian ataupun semangat untuk berusaha menghadapi tantangan.

12. Malai bukurupa ricaué, mappalimbang ri majé ripanganroé.

Artinya: “memalukan kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan”. Dikalahkan dalam perjuangan hidup karena keadaan memaksa memang memalukan. Sedangkan takluk, sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tak memiliki harga diri sama halnya mati.

13. Mattulu’ perajo téppéttu siranrang, padapi mapééttu iya.

Artinya: “terjalin laksana tali pengikat batang bajak pada luku yang selalu bertautan, tak akan putus sebelum putus ketiganya”.

Perlambang dari eratnya persahabatan. Di mana masing-masing saling mempererat, memperkuat, sehingga tidak putus jalin kelingnya. Apabila putus satu, maka semua sama-sama putus.

14. Massésa panga, temmasésa api, massésa api temmasésa botoreng.

Artinya: “bersisa pencuri tak bersisa api, bersisa api tak bersisa penjudi”.

Betapa pun pintarnya pencuri tak mampu mengambil semua barang (misalnya mengambil rumah atau tanah). Seberapa besarnya kebakaran hanya mampu menghancurkan barang-barang (misalnya tanah masih utuh). Akan tetapi seorang penjudi dapat menghabiskan seluruh barang miliknya (termasuk tanah yang tak dapat dicuri dan terbakar) dalam waktu singkat.

15. Mau maéga pabbiséna nabongngo ponglopinna téa wa’ nalureng.

Artinya: “biar banyak pendayungnya, tetapi bodoh juru mudinya”. Kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh banyak hal, tetapi yang paling menentukan adalah kecakapan dan rasa tanggung jawab kepala rumah tangga itu sendiri.

16. Naiya riyasengngé pannawa-nawa, mapaccingi riatinna, sappai rinawa-nawanna, nalolongengngi sininna adaé enrengngé gau’é napoléié ja enrengngé napoléié décéng.

Artinya: “cendekiawan (pannawa-nawa) ialah orang yang ikhlas, yang pikirannya selalu mencari-cari sampai dia menemukan pemecahan persoalan yang dihadapi, demikian pula perbuatan yang menjadi sumber bencana dan sumber kebajikan.

17. Naiya tau malempu-é manguru mana-i tau sugi-é.

Artinya: orang yang jujur sewarisan dengan orang kaya. Orang jujur tidaklah sulit memperoleh kepercayaan dari orang kaya karena kejujurannya.

18. Naiya accae ripatoppoki jékko, aggati aliri, narékko téyai mareddu’, mapoloi.

Artinya: “kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, kalau tidak tercerabut, ia akan patah”.

Di kalangan Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan.

Kata kias terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa bencana (malapetaka).

19. Narékko maélokko tikkeng séuwa olo-kolo’ sappa-i batélana. Narékko sappako dallé sappa-i maégana batéla tau.

Artinya: “kalau ingin menangkap seekor binatang, carilah jejaknya. Kalau mau mencari rezeki, carilah di mana banyak jejak manusia”.

Pada hakikatnya, manusialah yang menjadi pengantar rezeki, sehingga di mana banyak manusia akan ditemui banyak rezeki.

20. Narékko téyako risarompéngi lipa’, aja’ mutudang ri wiring laleng.

Artinya: “kalau kamu tak sudi terserempet sarung, jangan duduk di tepi jalan”. Duduk di tepi jalan dianggap perbuatan yang tak wajar, karena banyak orang berlalu-lalang.

Hal ini nengandung nasihat agar menjauhi segala sesuatu yang berbahaya supaya selamat.

21. Narékko maéloko madécéng ri jama-jamammu, attangngakko ri batéla-é. Aja’ muolai batéla sigaru-garué, tutungngi batéla makessingngé tumpu’na.

Artinya: “kalau mau berhasil dalam usaha atau pekerjaanmu, amatilah jejak-jejak. Jangan mengikuti jejak yang simpang siur, tetapi ikutlah jejak yang baik urutannya”

Jejak yang simpang siur adalah jejak orang yang tentu arah tujuan. Jejak yang baik urutannya adalah jejak orang yang berhasil dalam kehidupan. Sukses tidak dapat diraih dengan semangat saja, melainkan harus dibarengi adanya tujuan yang pasti dan jalan yang benar.

22. Ola’ku kuassukeki, ola’mu muassukeki

Artinya: “takaranku kujadikan ukuran, takaranmu kamu jadikan ukuran”. Setiap orang mempunyai prinsip atau landasan berpikir sendiri-sendiri dalam memandang sesuatu. Oleh karena itu harus ada saling pengertian atau tenggang rasa supaya tak terjadi pertikaian.

23. Paddioloiwi nia’ madécéng ri temmaddupana iyamanenna.

Artinya: “Dahuluilah dengan niat baik sebelum melaksanakan pekerjaan”. Dengan adanya niat baik yang bersangkutan akan tertuntun ke jalan yang benar. Berniat baik saja sudah merupakan kebaikan, apalagi kalau dilaksanakan.

24. Pauno sirié, mappalétté ri pammasareng essé babuaé.

Artinya: “malu mengakibatkan maut, iba hati mengantar ke liang lahat”. Rasa malu yang tak terkendali dapat mengundang malapateka (mengundang maut). Perasaan iba yang berlebihan juga dapat membawa kesengsaraan dan mencelakakan (menyebabkan kematian).

25. Pala uragaé, tebakké tongengngé teccau maégaé, tessiéwa situlaé.

Artinya: “berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan”.

Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak termusnahkan. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

26. Pura babbara’ sompe’ku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellengngé nato walié.

Artinya: “layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali”.

Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca, yang berarti mendahulukan pertimbangan yang waras dan matang.

Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang dan guling serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar atas dasar kata putus seperti di atas.

27. Rebba sipatokkong, mali siparappé, sirui ménré tessirui nok, malilu sipakainge, maingeppi mupaja.

Artinya: “rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti”.

Mengandung pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Juga harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Jika semua itu dilaksanakan akan terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.

28. Sellenna ejae, temmasellengngi ejae ri to maleo-leoe,

Artinya salam sang bidadari kepada pahlawan di medan perang / orang yang giat bekerja, Salam bidadari tak kunjung datang kepada orang yang hanya tinggal berpangku tangan.

29. Tenniyaka’ ana’ manengnga, magiang temmatojang, Nawelai gona.

Artinya aku bukan anak manja dan perajuk, merasa gamang tanpa di ayun dan ditinggalkan orang yang paling aku cintai.

30. Pole na’ pelele winru, Gongkana tana Jawa, Tenrena padana. Engkasi pada padanna, I yasi tenna ratte, cawa cabbiruna.

Telah berkeliling aku membanding-bandingkan, sampai ke tanah Jawa, Tak ada satu pun yang menyamai. Kalau pun ada yang menyamai, yang tak dapat ditandingi ialah senyum simpulnya.

31. Rebba sipatokkong, Mali siparappe, Malilu Sipakainge’.

Artinya Bila rebah saling menopang, Hanyut saling memintas, bila lupa saling mengingatkan.

32. Konadapi-i lima pariama, Lisui pakkalinoangnge.

Artinya Kalau sampai lima puluh tahun, sejarah biasanya terulang.

33. Temmate tuwoe, Tebbakke tongengnge, Tellete pamasara, Tenniya kadona.”

Artinya Tidak akan mati yang hidup, Takkan pupus Kebenaran, Tak akan putus di titian, Kalau bukan takdirnya.

34. Atutui sirimu, Nasaba’ iya Sirie, Sunge naranreng.

Artinya Jagalah malu dan harga dirimu, sebab yang namanya malu dan harga diri, Nyawa taruhannya.

35. Kega nalebbireng, I tello sibatue, na I tello maegae?

Artinya Mana yang engka utamakan, telur yang sebutir atau telur yang banyak?

36. Temmakkeana’ temmakkeambo, pura Onroe.

Artinya Tidak kenal anak, tak kenal bapak, ketentuan Undang-undang.

37. Iyapa nari rampu gajangnge, lele wanuapi.

Artinya Keris baru dihunus, kalau pindah sarung ke tubuh lawan.

38. Malebba’pi sompe’e, mencippi tarengke’e Na rirampu gajangnge.

Artinya Kalau semuanya sudah jelas, Layar telah terkembang, barulah keris disentak.

39. Rekko meccinni tarengke’e, malebba’ni sompe’e, I leppe’ni tulue.

Artinya Kalau sudah layar terkembang, jelas sudah tujuan, maka dilepaslah tali pengikatnya.

40. Taroni talleng Nato walia.

Artinya Lebih mulia mati tenggelam daripada surut kembali.

Bone, 7 September 2009

Selanjutnya