Genrang Sanro di Desa Ujung-Padacenga

Genrang Sanro di Desa Ujung-Padacenga

Genrang sanro merupakan suatu pertunjukan gendang yang berkembang di lingkungan kerajaan Bone masa lalu. Genrang sanro ini pertama kali diturunkan oleh seorang bissu yang diberi julukan sanro ma’gangka.

Awalnya Genrang Sanro dipertunjukan di depan kalangan keluarga istana maupun di desa tempatnya tinggal, begitupun kampung-kampung yang berseberangan dengan desa tempat tinggalnya.

Genrang Sanro diperkenalkan kepada rumpun keluarganya, karena diyakini untuk mempelajari genrang tersebut hanya bisa diwariskan oleh rumpun keluarganya sendiri.

Penamaan gendang ini juga dipengaruhi dengan masuknya Islam di kerajaan Bone pada masa itu. Pembesar kerajaan juga turut menyebarkan Islam hingga ke pelosok kampung.

Bukti pengaruh Uslam terhadap penamaan genrang sanro yaitu dengan adanya penamaan Genrang Tellue, yang berarti tiga kekuatan yang gaib atau 3 golongan yang ditinggikan menurut pandangan Islam.

Adapun tiga kekuatan gaib yang dimaksudkan, yaitu roh, nur, dan bayangan. Sementara tiga golongan yang ditinggikan dalam Islam yang dimaksudkan adalah Allah SWT, Nur para malaikat Allah, dan Nabi Muhammad SAW.

Genrang Sanro sampai saat ini sangat melekat dan dikenal dalam masyarakat Bone. Hal ini dikarenakan dari zaman dahulu hingga sekarang sanro atau dukun masih tetap bertugas dalam ritual Mattula’ Bala dan maduppa ase.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, fungsi tradisi genrang sanro sebagai ritual adat mengalami pergeseran.

Pertunjukan Gebrang Sanro ini mulai dipertunjukan sebagai sarana hiburan atau sarana silatuhrahmi masyarakat setempat meskipun tidak menerbelakangkan fungsinya sebagai sarana permohonan doa kepada arwah leluhur mereka.

Selain acara mappano bine, madduppa ase, genrang sanro ini biasa dipertunjukkan pada acara makkulawi. Para pemainnya terdiri perenpuan/nenek-nenek dengan baju hitam dengan peralatan seperti alat-alat dapur, besi-besian dan asesoris lainnya.

Genrang Sanro Sebagai Pengobatan

Dunia medis memang telah dikenal sejak dulu bahkan nyaris seumur manusia di dunia ini. Berbagai penanganan medis pun beragam, mulai dari ramuan tumbuh tumbuhan, pembacaan mantra hingga pengobatan modern di Rumah sakit.

Di Desa ujung-Padacenga, Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, tradisi pengobatan dengan musik ini disebut “Genrang Sanro”. Dalam bahasa Bugis, “Genrang” artinya musik, sedang “Sanro” berarti tabib.

Dalam melakukan ritual ini seluruh sanro yang memainkan musik tardisional haruslah perempuan dan merupakan garis keturunan secara turun temurun. Prosesi ritual ini membuat bulu merinding.

Suara tabuhan gendang dan gemerincing suara peralatan rumah tangga plus suara mantra yang dialunkan seorang sanro menghadirkan suasana magis yang sakral. Umumnya, pasien yang sedang “diobati” berbaring dan dikeliingi oleh para sanro sambil membunyikan musik.

Yang diobati penyakit dalam seperti tipes, cacar, atau orang kena guna-guna (ilmu hitam/santet), bukan penyakit luar seperti luka bakar.

Saat ini ritual pengobatan musik itu sudah nyaris punah. Padahal, ritual ini layak dipandang sebagai aset budaya bangsa warisan leluhur.

Kita berharap ke depan agar ritual ini tetap dilestarikan jangan sampai punah, sebab zaman dulu cara inilah yang kita gunakan kalau ada warga yang sakit.

Uloe : April 2008