oleh

Filosofi Bugis dan Perahu

Filosofis perahu bagi orang Bugis:

“Rekko maoloko russa’ ritengnga dolangeng paliwi gulimmu lao riatau wekkapitu, rekko temmakkua paliwi lao riabeo wekkapitu, rekko denaga laleng paccingarai”.

“Apabila engkau menemui kesulitan di tengah laut, maka palingkanlah perahu ke sebelah kanan tujuh kali. Kalau itu pun tidak diberi jalan, palingkanlah perahumu ke sebelah kiri tujuh kali. Kalau itu pun tidak diberi jalan, barulah engkau menempuh kesulitan.

Filosofi ini mengiringi perjalanan sebuah perahu yang tengah melaju di tengah samudera. Perahu dan laut memang merupakan bagian terbesar bagi filosofi, perilaku hidup, dan keseharian warga suku Bugis.

Suku Bugis bukan hanya dikenal sebagai pelaut yang tangguh dan yang terampil. Tapi, juga sebagai pembuat perahu kayu yang andal. Dan tentu saja dengan teknologi tradisionalnya.

Filosofi ini bukan hanya tercatat dalam naskah kuno I La Galigoe tapi juga dalam bukti nyata yang diperlihatkan para pembuat perahu Bugis.

Bagi warga suku Bugis, pembuat perahu bisa diibaratkan seorang ibu dengan perahu sebagai bayinya. Karena di antara keduanya bukan hanya terikat dalam hubungan pembuat dan sebuah benda mati. Namun jauh di dalam juga terjalin sebuah ikatan batin nan kukuh. Laksana ibu dan sang jabang bayi.

Lantaran itulah, ketika para sawi bekerja keras melepaskan perahu ke tengah laut, juga akan merasakan paduan sukacita dan rasa haru seperti seorang ibu yang tengah melahirkan. Bayi itu lahir dari para sawi sang perancang.

Laut dan perahu adalah kehidupan suku Bugis dan suku-suku laut di Celebes, nama lama Sulawesi. Karena filosofi, perilaku dan cara berpikir mereka umumnya senantiasa dikaitkan dengan laut dan perahu.

Keterkaitan itu begitu nyata dalam paparan naskah kuno Bugis La Galigo. Persisnya saat mengurai kisah perjalanan Sawerigading ke Negeri Tiongkok atau Cina dengan sebuah perahu besar. Dalam naskah kuno itu digambarkan pula, seolah perahu besar memboyong manusia dan tetumbuhan.

Boleh dikatakan, suku Bugis memiliki teknik tersendiri dalam membuat perahu. Ritual merupakan langkah pertama sebelum dilakukan penebangan pohon untuk membuat lunas perahu atau kalabiseang. Setelah itu barulah para sawi/sahi meraih alat kerjanya dan menghaluskan lunas perahu di galangan kapal yang disebut bantilang.

Usai lunas perahu atau kalabiseang dihaluskan, para sahi pun memasang dua penopang lumbung perahu di ujung dan ekor perahu yang disebut sotting. Selanjutnya lambung perahu atau kulit perahu dipasang, membentuk sebuah perahu.

Inilah perbedaan pembuatan perahu Bugis dibandingkan perahu modern. Ini karena perahu Bugis dibuat dengan terlebih dahulu membuat lambungnya, setelah itu baru rangkanya. Itu jelas berbeda dengan pembuatan perahu modern yang dibikin terlebih dahulu rangkanya dan baru lambungnya.

Perahu Bugis memiliki catatan panjang dalam kehidupan suku-suku di Pulau Sulawesi. Sejumlah arkeolog mencatat, industri tradisionalnya telah dimulai sejak masa ratusan tahun lampau. Dan bila membuka kembali halaman-halaman lontar naskah kuno La Galigo, masa itu berada pada sekitar abad ke-7 atau setidaknya abad ke-12 Masehi.

Adapun suku Bugis dari Desa Ara di wilayah Bulukumba, kerap disebut juga orang Ara tercatat sebagai pembuat-pembuat perahu Bugis yang terampil. Mereka bukan hanya membuat perahu untuk kebutuhan mencari ikan atau bernelayan, tapi juga untuk alat transportasi. Bahkan, perahu besar untuk berniaga, seperti yang dilakoni Sawerigading dahulu kala. Begitu pula kapal perang Ellung Mangenre dibuat di Ara atas pesanan Raja Bone La Temmassonge.

Lantaran itulah, perahu Bugis memiliki banyak ragam dan ukuran. Dari yang berukuran besar hingga kecil. Uniknya, perahu-perahu itu memiliki nama tersendiri, semacam Pajjala, Banggo atau Sandek. Belakangan, jenis phinisi lebih disebut-sebut sebagai perahu khasnya suku Bugis.

Di luar catatan sejarah dan pesan filosofis, warga suku bugis dan juga suku-suku lain di Pulau Sulawesi dikenal dekat dengan mitos. Bahkan, keterampilan membuat perahu warga Bugis di wilayah Bulukumba ini pun kerap dihubungkan dengan mitos.

Sahibul hikayat, ketika perahu milik Sawerigading hancur di perairan Tanjung Bira, Bulukumba, layarnya terdampar di Pulau Bira. Sedangkan serpihan lambung perahunya terdampar di Desa Ara.

Pada akhirnya, Tanjung Bira menjadi tempat lahirnya pelaut-pelaut yang tangguh. Dan hingga saat ini, pelaut-pelaut dari Tanjung Bira telah menyebar hampir ke seluruh Nusantara. Sementara Desa Ara menjadi kampung kelahiran para pembuat perahu yang terampil.

Terbukti hingga sekarang di sepanjang pesisir Tana Beru, Bulukumba, masih diramaikan oleh berbagai kegiatan pembuatan perahu. Mereka melayani pemesanan bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Alhasil perahu Bugis pun telah menyebar ke mancanegara sebagai perahu pengangkut barang atau perahu wisata.

Kisah kebesaran suku Bugis dengan pelayaran Sawerigading dengan perahu Bugis seperti terpapar dalam naskah kuno La Galigo terbukti bukan cerita rekaan semata. Soalnya, siapa pun kini bisa melihat warisan keahlian dan keterampilan yang diturunkan oleh para leluhur suku Bugis itu di Tana Beru, Bulukumba.

Terlepas dari kebanggaan itu, warga suku Bugis justru membaca paparan dalam sastra kuno La Galigo. Terutama yang berkaitan dengan simbol laut perahu sebagai ajaran kehidupan. Persisnya seperti filosofi kehidupan suku Bugis.

Akhirnya “sang jabang bayi” lahir ke dunia, seraya disertai tarikan lega napas “ibunda”. Ini berarti sebuah perahu Bugis telah berada di laut lepas. Maka tugas sang punggawa dan para sawinya berakhir. Suku Bugis bukan hanya terampil membuat perahu tradisional, ia pun berhasil membuktikan kebesaran nenek moyangnya yang memiliki sejarah panjang di samudera luas.

Suku Bugis bagai peselancar piawai tak pernah takut dengan gelombang besar. Dia justru masuk digulung gelombang itu, tapi tetap berjaya di atas. Namun peselancar yang pengalaman tahu kapan harus menarik papan selancar pulang ke dermaga.

Berikutnya