oleh

Pappaseng Tomatoa dalam Masyarakat Bugis

Pappaseng adalah pesan yang disampaikan secara lisan atau tertulis dalam bentuk lontarak oleh orang-orang bijak dalam masyarakat bugis, atau orangtua terhadap anak-anaknya yang bertujuan membentuk karakter baik.

Pappaseng berfungsi sebagai sarana: (1) nasihat dan kritik, (2) karakter diri pada manusia, dan(3) nasihat dan sumber nilai.

Selain sebagai sarana pembentukan
karakter, pappaseng juga menjadi sarana
hiburan masyarakat bugis. Pappaseng
tersebut mereferensikan ideologi kultural yang memuat kritik terhadap orang kaya. Eksistensi kedermawaan adalah memberi sebagian harta kepada orang lain.

1. Pappaseng sebagai Kritik Sosial

Kearifan lokal Bugis banyak terdapat
dalam pappaseng yang memuat beberapa nilai luhur yang berfungsi untuk sarana kritik atu sindiran terhadap ketimpangan dan penyelewengan atau kesewenang-
wenangan yang dilakukan oleh perintah
raja, orang kaya. Kritik biasa dilakukan
sebagai kontrol sosial terhadap perilaku
seseorang, suatu kelompok tertentu yang
menyimpan dari kebiasaan dan aturan
sosial serta aturan hukum. Berikut
beberapa kritik yang biasa dilakukan oleh bijak untuk kemaslahatan hidup orang banyak.

a. Kritik dan sindiran terhadap
raja/pemerintahan:

Naia arung mangkau-e nade
lempu-na, padatoi bara’na saloe nade
uwaena.

Artinya: Raja/penguasa yang tidak
jujur bagaikan sungai yang tidak berair.

Pappaseng ini mengandung
makna semantik pada kata ‘saloe nade
uwaena’ adalah simbol sungai yang tidak
memiliki air. Air memiliki simbol
kehidupan. Sungai identik dengan air
sebagai sumber kehidupan, jika sungai
mengering ditinggalkan oleh
orang-orang sekelilingnya.

Paseng tersebut merupakan kesendiran terhadap pemimpin yang dapat menjadi sumber kesejahteraan rakyat, jika tidak memiliki sifat jujur maka rakyat akan hidup sengsara dan meninggalkannya.

Fungsi lain pappaseng untuk mengingatkan pemimpin agar bersifat amanah dalam memimpin. Penguasa yang tidak jujur seperti sungai yang tidak berair, bermakna seorang pemimpin bila tidak jujur hanya
memiliki nama pemimpin, namun tidak
memberikan manfaat bagi rakyatnya.

Bentuk kritikan pada paseng tesebut di atas masih sangat relevan dengan zaman
sekarang yang masih banyak pemimpin
tidak memiliki sifat jujur jika mendapat
amanah dari rakyat.

Eksistensi kepemimpinan dalam pappaseng tersebut yaitu dapat member kesejahteraan yang dipimpin.

b. Kritik dan sindiran terhadap orang
kaya:

Naia tosugi-e nade labona padatoisa
ebara’na ellung maumpe’ nade bosinna.

Artinya: orang kaya tanpa sifat
dermawan laksana awan tebal yang
tanpa hujan.

Pappaseng tersebut terdapat kata
‘ebara’na ellung maumpe’, berupa
klausa yang merupakan simbol awan tebal. Awan tebal memiliki makna harapan akan turun hujan. Hujan sebagai tanda akan memberikan kehidupan pada manusia karena menghidupkan tanaman dan tumbuhan.

Awan tebal yang tidak menurunkan hujan mengecewakan banyak orang karena tidak mendapatkan manfaat dari keberadaan awan tebal. Simbol awan tebal tersebut dilekatkan pada orang kaya yang memiliki banyak harta.

Orang kaya yang kikir tidak mendermakan hartanya pada orang yang membutuhkan sifat orang kaya tidak dermawan identik dengan awan tebal tanpa hujan. Tidak memberi manfaat pada orang banyak.

Orang kaya tidak dermawan laksana awan tebal tanpa menurunkan hujan. Artinya, orang kaya memiliki banyak harta, namun memberikan berkah bagi orang-orang dari sekelilingnya. Tidak mengeluarkan sedekah bagi orang miskin sehingga kekayaannya tidak dapat dinikmati oleh orang lain. Paseng tersebut mereferensikan ideologi cultural yang memuat kritik terhadap orang kaya. Eksistensi kedermawaan adalah memberi sebagian harta kepada orang lain.

2. Pappaseng Sebagai karakter Diri Manusia

Karakter pada diri manusia memiliki banyak macam yang harus diketahui oleh setiap yang ingin mendalaminya, dalam pembagian karakter antara lain:

1. Deceng na ja (karakter baik dan buruk), terkait erat dengan perasaan tentang suka dan tidak suka pada sesuatu. Baik dan buruk adalah nilai sebuah perbuatan yang menjadi ukuran dari hasil perbuatan, atau sebuah
pedoman perbuatan yang bisa dilakukan atau tidak bisa dilakukan. Nilai dilembagakan dalam karifan orang-orang tua terdahulu yang
dilestarikan dalam bentuk paseng. Paseng dapat digolongkan sebagai karya sastra seperti halnya pantun, peribahasa dan elong.

2. Lempu (karakter jujur)

Lempu bermakna jujur. Kata jujur artinya lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, dan ikhlas. Karakter jujur (lempu), alempureng (kejujuran) terkait dengan sifat seseorang yang tulus hati, tidak curang, ikhlas dalam interaksi dengan sesama manusia. Karakter jujur sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Bugis, seperti yang terungkap dalam beberapa data dalam pappasaeng tomatoa.

3. Warani (karakter berani),

Warani atau berani artinya sifat yang dimiliki oleh seseorang yang mau melakukan sesuatu perbuatan atau pekerjaan yang mengandung tantangan dan risiko.

Banyak orang yang tidak mau menghadapi hal-hal mengandung risiko namun masih ada juga yang memiliki sifat menantang gelombang laut melakukan pelayaran untuk
mengurangi samudera.

4. Ada na gau’ (karakter sesuai kata dan
perbuatan)

Ada na gau’ bermakna kata dan perbuatan. Kata yang bermakna ucapan ada na gau’ ini bermakna perilaku, yaitu segala gerak-gerik sikap dan tingkah laku.

5. Maranreng perru (karakter setia)

Maranreng perru atau karakter setia ini
dari kata marenreng, secara etimologi
bermakna bergetar, bergerak, dan
perlu usus (perru), usus yang menghubungkan anak dan orang tuanya disebut ari-ari.

6. Sipakatau (karakter kemanusian).

Sipakatau berarti memanusiakan manusia, menghargai orang seperti menghargai diri sendiri. Sipakatau berasal dari kata dasar ‘tau’
yang berarti orang lain. Sipakatau bermakna pemberian kepada seseorang karena mereka berhak mendapatkannya seperti penghargaan, kasih-sayang, dan cinta.

7. Aseddi-seddingeng (karakter gotong
royong)

Salah satu tema yang diungkap dalam pappaseng tomatoa adalah aseddi-seddingeng (gotong royong) atau bekerja bakti.

3. Pappaseng Sebagai Nasihat dan Sumber Nilai

Kebijaksanaan hidup dapat diperoleh melalui nasihat terhadap diri, kritik terhadap masalah sosial.

Nasihat yang berupa ajaran memiliki ciri kalimat yang memberikan petunjuk tentang yang baik dan buruk.

Naia allirinna lino-e eppa-i uangenna, seuani arung melempu-e, maduanna topanrita bokoriengngi lino, bettuanna pakkisiwiannani ri allahu ta ala napogau’, matelluna, tossugi-e
na malabo; maeppa na, pakere-e, na masabbara’.

Artinya: dunia ini memiliki empat
tiang: (1) raja atau penguasa yang jujur, (2)
ulama yang zuhud, (3) orang kaya lagi
dermawan, dan (4) orang miskin yang
sabar.

Pappaseng tersebut di atas terdapat
simbol ‘allirinna linoe’. Kata tiang selalu
identik dengan penyanggah, penopang agar
sesuatu yang disanggah bisa tegak. Dunia
identik dengan kehidupan. Jadi bila
diplesetkan dengan pengertian secara
hakikat bahwa hidup ini bisa aman bila ada yang menopang.

Dalam paseng ini disebutkan, bahwa yang bermaksud bagian dari tiang dunia adalah raja atau pemimpin yang jujur, ulama yang suhud, orang kaya yang dermawan dan orang miskin yang sabar. Kehidupan dalam dunia ini bisa tegak dan aman bila didukung oleh empat komponen tersebut. Bila salah satu dari mereka yang rusak maka kehidupan di dunia ini akan terganggu.

Ajaran yang disampaikan dalam
paseng tersebut adalah untuk mengetahui diri masing-masing bila menjadi manusia ditakdirkan oleh Allah sebagai salah satu dari pemimpin atau ulama sehingga kehidupan di dunia ini aman dan tentram.

Eksistensi kehidupan di dunia ini berjalan dengan aman, tenteram dan damai apabila didukung oleh empat komponen yang kuat yaitu raja yang jujur, ulama yang zuhud, kaya dan dermawan dan orang miskin yang sabar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya