oleh

Bedah Lagu Ala Masea-sea

Ala Masea-sea adalah lagu Bugis yang bercerita tentang penyesalan seseorang yang tidak pernah belajar di masa kecilnya. Tatkala sudah ada keinginan untuk belajar, pelajaran sudah susah untuk dimengerti karena pikiran telah bercabang dan rasa malas juga telah melanda.

Lagu ini tidak diketahui penciptanya sampai sekarang, namun menjadi lagu populer dan sudah dinyanyikan di sekolah-sekolah kampung Bugis di tahun 1950-an.

Ala masea-sea mua
Tau naompori sesse’ kale
Nasaba riwettu baiccu’na
De memeng naengka nagguru

Baiccu’ta mitu nawedding siseng
Narekko matoani masussani
Nasaba maraja nawa-nawani
Enrengnge pole toni kuttue

Terjemahan :

Alangkah sia-sianya
Hidup manusia yang dilanda penyesalan
Karena di masa kecilnya
Tidak pernah belajar

Waktu kecillah belajar itu diperlukan
Kalau sudah besar, akan susah
Karena sudah banyak yang dipikirkan
Dan kemalasan juga menghampiri

Lirik baiccu’ta mitu nawedding siseng menyampaikan kepada kita bahwa masa yang paling bagus untuk menuntut ilmu pengetahuan adalah masa kecil. Karena anak kecil laksana kertas kosong yang siap dihujani dengan tinta-tinta pengetahuan. Anak yang berusia 0-15 tahun, frekuensi gelombang otaknya masih terletak pada kisaran gelombang otak alfa atau tetha.

Gelombang otak alfa adalah gelombang otak yang frekuensinya berkisar antara 8-12 hz. Pada titik ini orang akan selalu merasa rileks dan santai, sehingga orang akan dengan mudah menerima sugesti.

Sementara gelombang otak tetha adalah gelombang otak yang frekuensinya pada kisaran 4-8 hz. Pada frekuensi ini, orang akan begitu merasa radde’ nyawana (khusyu). Jika seseorang berada pada kedua gelombang otak ini, maka Raticular Activiting System (RAS) atau yang dikenal sebagai area kritik manusia akan terbuka sehingga informasi yang masuk akan tertanam ke bawah sadar.

Narekko matoani masussani, lirik ini menyampaikan kepada kita, bahwa ketika dewasa baru kita hendak memulai maka akan susah. Karena orang dewasa sudah memikirkan banyak hal seperti masalah karir, ekonomi dan bagi yang sudah menikah pasti memikirkan anak dan isterinya.

Bagi Anda yang belum menikah, cukup memikirkan saja dulu bagaimana caranya mendapatkan pendamping hidup. Nantipi kita pikir yang lain.

Secara ilmiah, frekuensi gelombang otak orang dewasa kebanyakan berada pada frekuensi betha (12-20hz) di mana seseorang akan berada pada kondisi kesadaran penuh. Lebih banyak tegangnya daripada santainya.

Orang yang berada pada frekuensi gelombang otak ini, area kritiknya akan menebal sehingga informasi yang diterima tidak menembus bawah sadar. Alhasil, informasi akan cepat terlupakan. Makanya jangan heran ketika Anda terlalu banyak mengkritik penampilan dosen atau guru, pelajarannya susah dipahami, karena area kritik Anda terlalu tebal.

Jadi pendidikan di usia dini bukanlah suatu program yang lahir dari Kementrian atau Pemerintah. Ia bukanlah sesuatu yang baru ada ketika program wajib belajar 9 tahun digaungkan. Akan tetapi tomatoatta’ riolo (orangtua dulu) telah menyampaikan urgensi pendidikan melalui pappaseng entah itu lewat tutur maupun melalui lagu.

Meski lagu ini menekankan, bahwa belajar di masa tua sudah susah laksana mengukir di atas air, bukan berarti kita harus berhenti belajar dan hanya terjebak pada penyesalan yang dalam hingga tak tau arah jalan pulang (seperti butiran debu). Namun kelalaian di masa lalu mesti menjadi pembelajaran untuk perbaikan hidup di masa depan.

Jika dicermati lagu ini menyampaikan sebuah pappaseng (pesan) tentang pentingnya pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses yang mesti dijalani mulai dari proses kecil hingga kita meninggalkan dunia yang fana ini.

Tentu kita masih ingat dengan salah satu hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lihat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya